Sabtu, 07 Desember 2013

5:35:00 AM
Berikut ini merupakan beberapa contoh studi kasus masing-masing bab mata kuliah Ilmu Sosial Dasar, dimulai dari bab 1 sampai dengan bab 10, berikut rangkumannya:

BAB I : Pengantar Ilmu Sosial Dasar


Aplikasi Mata Pelajaran IPS Terhadap Kepedulian Sosial



Apakah yang dimaksud dengan Pekerjaan itu? Apakah hanya untuk orang-orang yang bekerja di kantor dan berseragam? Bagaimana dengan pekerjaan sebagai pengepul sampah?



Saya adalah seorang guru Sekolah Dasar kelas 3 di SDN Sumber Wetan 2. Pada mata pelajaran IPS Kelas 3 ada pembahasan tentang mata pencaharian. Ketika saya mulai menjelaskan tentang jenis-jenis pekerjaan, tiba-tiba saya dikejutkan dengan sebuah teriakan, “Bu guru, ayah Huda seorang rop-orop (pengepul sampah)”. Teriakan siswa itu kontan saja menimbulkan gelak tawa dari teman-temannya. Sementara Huda merasa tersinggung dengan cemoohan teman-temannya.





Dari kisah tersebut akhirnya saya menanyakan kepada mereka apa sebenarnya arti pekerjaan? Jawaban anak-anak sangat bervariasi. Salah satu jawaban menyebutkan bahwa pekerjaan itu hanya untuk orang-orang yang bekerja di kantor dan berseragam. Sementara pekerjaan pengepul sampah seperti ayah Huda bukanlah jenis pekerjaan seperti yang sudah saya jelaskan.



Akhirnya muncul ide untuk mengajak anak-anak mengunjungi tempat pengepul sampah yang kebetulan lokasinya tidak jauh dari sekolah kami.



Sebelum menuju lokasi, saya bentuk kelompok belajar agar lebih memudahkan kunjungan tersebut. Disana mereka tertegun karena begitu banyak timbunan plastik bekas botol minuman dikumpulkan oleh para pengepul sampah. Sampah dikumpulkan menurut warna dan jenisnya. Lalu botol bekas tersebut digiling untuk dikirim ke pabrik pembuatan barang-barang plastik.



Setelah mengamati proses penggilingan sampah, siswa mengadakan tanya jawab dengan para pekerja. Dari hasil tanya jawab, siswa membuat laporan kegiatan untuk dikumpulkan.



Kegiatan tanya jawab kepada pekerja pemilah sampah.



Kegiatan mengamati penggilingan sampah



Sampah setelah digiling dipilah berdasarkan warnanya





Opini: Selain mempelajari teori mengenai ilmu sosial di kelas, ada baiknya juga diselingi dengan tinjauan ke lapangan. Seperti pada kasus diatas, siswa-siswi kelas 3 SD diajak untuk mengunjungi dan mengamati kegiatan mata pencaharian seorang Orang tua murid di kelas, sehingga diharapkan adanya peningkatan kepedulian siswa terhadap mata pencaharian sesorang, sehingga siswa tersebut dalam kesehariannya menjadi lebih menghargai pekerjaan orang lain.







BAB II : Penduduk Masyarakat dan Kebudayaan


 Jambore Iket Sunda Bentuk Nyata Pelestarian Budaya


Dikutip dari : http://www.detiklampung.com/berita-355-jambore-iket-sunda-bentuk-nyata-pelestarian-budaya.html


DL/01092013/Bandarlampung.



Beragam cara bangsa Indonesia untuk dapat melestarikan dan mengembangkan budaya negeri ini. Satu diantaranya adalah dengan mengangkat kearifan local ke tingkat nasional bahkan internasional. Seperti yang dilakukan oleh komunitas iket Sunda (KIS) Jawa Barat yang akan menghelat Jambore Iket Sunda tingkat internasonal di Pangandaran – Banten, 8 September mendatang.



Ini diungkapkan Gunawan Sejati, penggagas komunitas iket Sunda di Lampung, kepada detiklampung.com, Minggu (01/09). “Kami siap mengikuti Jambore Iket Sunda, karena selain itu event besar internasional, juga akan memberikan semangat bagi kami untuk membentuk KIS regent Lampung,” kata Gunawan.



Sementara ini, meskipun belum secara resmi dikukuhkan, KIS sudah mempunyai komunitas lebih dari 300 orang di seluruh Lampung. “Ini kan baru digagas, sambutannya cukup lumayan cepat dari teman-teman, bahkan bukan saja dari etnis Sunda, juga yang lain,” tambahnya.



Menurut Gunawan, iket adalah sejenis penutup kepala yang berciri khas Sunda ada beberapa macam, seperti Barangbang Semplak, Julangapak, Parengkos Jengkol, Parengkos Nangka, dan beberapa lagi, termasuk satu kreasi yang sedang diproduksi di Lampung Tengah adalah Parengkos Gajah Lampung.



“Ini kekayaan budaya yang harus dilestarikan, dan dapat dipadukan dengan khas daeah dimana kita tinggal. Seperti di Lampung ini. Ayah saya sudah merancang sebuah iket dengan corak Sunda namun berornamen batik Lampung. Ini akan menambah kecintaan kita terhadap budaya negeri ini,” kata staf Humas Kabupaten Lampung Tengah itu.



Sementara menurut ketua perguruan Sonia Wening, Amien, atau yang lebih akrab dipanggil Laleur Bodas (Lalat Putih), menegaskan bahwa saat ini Paguyuban Jawa Barat memang sedang mempersiapkan pertemuan se provinsi Lampung yang kebetulan juga direncanakan tanggal 8 September mendatang. “Tempatnya kami sepakati SLB Bandarlampung. Ini juga dalam rangka tetap melestarikan budaya Indonesia. Bentuknya memang pagelaran Seni Sunda dalam rangka halal bihalal kami, Lampung Tengah mendapat tugas untuk mengirimkan kelompok pencak silat.” katanya.



Komunitas masyarakat Sunda di provinsi Lampung cukup besar, pada data BPS tahun 2009, dari 8 juta penduduk Lampung, etnis Sunda berjumlah 2 juta jiwa. Dan ini terus berkembang. “Kami tetap tidak melupakan budaya asal daerah, tetapi tetap menjunjung tinggi adat dan budaya dimana kami berada. Di mana bumi dipijak, di situ langit di junjung, begitulah kira-kira,” tambah Amin. (R-01)





Opini: Beragamnya corak budaya bangsa Indonesia menjadi warisan yang tidak ternilai harganya, oleh karena itu, pelestarian budaya seperti yang dilakukan penduduk Lampung yang ber-etnis Sunda ini merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam melestarikan buadaya bangsa. Meskipun tidak sedang menetap di wilayah provinsi sunda, tetapi tetap tidak melupakan budaya yang diwarisakan secara turun-temurun dalam etnis Sunda. Selain itu perpaduan budaya kesenian Sunda dan corak batik Lampung tersebut dapat menambah kecintaan terhadap budaya bangsa.










BAB III : Individu, Keluarga, dan Masyarakat


Istri Korban KDRT: Sedih Lihat Anak Tiru Perilaku Kasar Ayah






TRIBUNNEWS.COM -- Istri aparat polisi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hanya bisa menahan sesak di hati. Dalam hati tidak tahan dengan kelakuan sang suami, namun dia tidak berdaya.



"Saya bertahan karena anak. Kalau saya berpisah dari suami, saya tidak memiliki jaminan bisa mendidik dan menyekolahkan anak saya secara layak. Karena itu, saya masih butuh suami untuk menghidupi dua buah hatiku,” kata Rianti, istri seorang bintara polisi kepada Surya, Senin (11/3/2013).



Yang membuat perempuan 30 tahun itu makin tersiksa, kondisi psikologis anaknya terpengaruh oleh kekerasan yang dilakukan suami. Beberapa kali sang anak menyaksikan langsung bagaimana bapaknya menganiaya sang ibu.



“Karena kekerasan yang saya alami ini, anak saya menjadi temperamental. Anak saya yang kedua, sering memukul temannya. Saya sampai dipanggil ke sekolah,” katanya. Anak pertama Rianti perempuan dan yang kedua laki-laki.



Anak sulung Rianti sedikit berbeda. Dia lebih sering melampiaskan kemarahan dengan menyakiti diri sendiri. Kondisi inilah yang membuat hati Rianti teriris. Dia tidak menyangka, kekerasan yang dialami berdampak pada kedua anaknya.



“Saat saya dipukul hingga terluka dan menangis, anak saya ada di rumah. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena masih kecil. Saya merasa kasihan karena mereka harus melihat ibunya dipukul ayahnya,” tutur Rianti.



Sejak dalam kandungan, anak-anak Rianti memang sudah 'mendapatkan' perlakuan kasar dari ayahnya. Rianti kerap dipukul suaminya saat dia mengandung. Bahkan, sang suami pernah memukulnya dengan kipas angin dan membenturkan kepalanya ke tembok.



Dia kemudian menduga-duga, sifat keras sang anak itu tertanam sejak masih dalam kandungan. “Tentu kondisi ini membuat saya sedih. Saya tidak ingin anak saya menjadi korban. Saya ingin mereka tumbuh normal selayaknya anak-anak seusia mereka,” kata Rianti.



Rianti pernah berencana mengungsikan anak-anaknya dari rumah. Dia ingin menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren. Selain untuk mempertebal agama, Rianti tidak ingin kejiwaan anaknya semakin terganggu karena aksi kekerasan yang dialami ibunya.



Hanya saja, sebagai seorang ibu, Rianti juga tidak bisa jauh dari sang buah hati. Dia masih berat melepas anaknya ke pondok pesantren. “Ibu mana yang bisa jauh dari buah hatinya. Tapi Insya Allah saya nanti kuat karena ini demi anak-anak,” imbuhnya.



Masalah lain kemungkinan juga muncul jika rencana itu terealisasi. Rianti cemas kekerasan yang dialami semakin menjadi-jadi kalau kedua anaknya tidak berada di rumah. Menurutnya, peredam emosi sang suami adalah dua anaknya itu.



Suami Rianti memang kerap luluh saat melihat anak-anaknya, terlebih anak kedua mereka. “Tidak ada cara lain agar suami saya lebih sabar kecuali memperbanyak interaksi dia dengan anak-anak,” katanya.



Cara ini untuk sementara memang mulai ada hasil. Rianti mengaku kekerasan yang dialaminya mulai berkurang. Biasanya, dia mengalami kekerasan antara dua sampai tiga kali dalam seminggu. Kini sudah tiga minggu belakangan ini dia tidak dikasari oleh sang suami.



Rianti juga memilih lebih sabar menghadapi suaminya yang memiliki temperamen tinggi. Bahkan, dialah yang kini berusaha lebih keras untuk mencari tahu kekurangan dirinya sehingga sang suami tega berbuat kasar. (Surya/idl)





Opini: Sikap anak sangat dipengaruhi oleh orangtuanya sendiri. Ada pepatah yang berbunyi "Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya". Oleh karena itu, sebagai orang tua hendaknya memberikan contoh dan teladan yang baik bagi anak-anaknya.









BAB IV : Pemuda dan Sosialisasi 


Seks Bebas Masalah Utama Remaja Indonesia



BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) menyatakan bahwa masalah remaja bukan hanya persoalan narkoba dan HIV/AIDS.



Persoalan seks bebas kini juga menjadi masalah utama remaja di Indonesia.



“Hal tersebut harus segera ditangani mengingat jumlah remaja terbilang besar, yakni mencapai 26,7 persen dari total penduduk,” kata Plt Kepala BKKBN, Subagyo, di Jakarta, Rabu.



Penelitian Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) pada 2007 lalu menemukan perilaku seks bebas bukanlah sesuatu yang aneh dalam kehidupan remaja Indonesia.



Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2009 pernah merilis perilaku seks bebas remaja dari penelitian di empat kota yakni Jakarta Pusat, Medan, Bandung, dan Surabaya.



Hasilnya menunjukkan sebanyak 35,9 persen remaja punya teman yang sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Bahkan, sebanyak 6,9 persen responden telah melakukan hubungan seksual pranikah.



”Sebagai institusi yang mempunyai fungsi sosialisasi tentang pentingnya kesehatan reproduksi bagi remaja dalam upaya mempersiapkan kehidupan berkeluarga, BKKBN terus meningkatkan berbagai program,” katanya.



Opini: menurut saya kita sebagai generasi muda harus lebih hati-hati terhadap pergaulan yang akan menjerumuskan diri kita ke dalam masalah, apalagi tentang seks bebas dan HIV/AIDS yang bisa mencemarkan nama baik kita juga keluarga. Selain menjaga diri, dukungan dari orang tua atau orang-orang terdekat juga harus ada agar bisa menjauh dari langkah yang salah.







BAB V: Warga Negara dan Negara 




Dilema Warga Perbatasan, Menyambung Hidup atau Pertahankan Patriotisme








Nunukan - Kalimantan Timur merupakan salah satu wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia. Pulau yang memiliki batas darat dengan wilayah Negeri jiran tersebut adalah Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik.



Khusus di Pulau Sebatik, ada satu cerita menarik yang perlu diketahui masyarakat Indonesia. Tak lain adalah mengenai bagaimana warga Negara Indonesia perbatasan bertahan hidup dengan dilema suplai kebutuhan yang sangat sulit serta mempertahankan nasionalisme ditengah keadaan yang serba susah.



Rita Yacob (40) merupakan perempuan asli Pulau Nunukan yang telah 13 tahun menetap di Pulau Sebatik. Ibu satu anak ini mengaku senang tinggal di pulau tersebut walau dengan berbagai kendala.



"Untuk makanan dan kebutuhan pokok, kami di pulau ini mendapatkannya dari pedagang di daerah Sungai Nyamuk yang suplainya dari Tawau (salah satu daerah negara bagian Sabah, Malaysia)," ujarnya kepada detikcom saat menyambangi Desa Pancang, Jalan Bedurahim, Pulau Sebatik, Kaltim, Selasa (8/10/2013).



Dia mengakui, untuk mendapatkan suplai dari daerah terdekat seperti Nunukan dan Tarakan membutuhkan waktu yang sangat lama. Belum ditambah dengan harga yang mahal, sehingga masyarakat Sebatik menggantungkan hidup dengan menyuplai kebutuhan hidup dari daerah Tawau, Malaysia.



"Habis bagaimana, menunggu dari Nunukan lama dan mahal. Di Tawau semua ada, dan harganya juga lebih murah. Misalkan minyak goreng di Tawau Rp 10 ribu, di Nunukan lebih mahal," tuturnya polos.



Wanita yang bekerja di bagian penyapuan sampah ini mengatakan, warga Sebatik memakai 2 mata uang untuk bertransaksi, rupiah dan ringgit. Walaupun saat ini 1 Ringgit Malaysia (RM) telah berada di kisaran Rp 3.500, masyarakat tetap lebih senang memenuhi kebutuhan hidup dari negeri jiran.



Opini: Seharusnya pemerintah tidak hanya fokus dalam pembangunan di wilayah perkotaan saja, tetapi juga harus mementingkan kebutuhan dan pembangunan di daerah perbatasan. Sehingga kesejahteraan seluruh warga Indonesia lebih terjamin, sebagaimana tujuan negara pada umumnya.







BAB VI: Pelapisan Sosial dan Kesamaan Derajat





Citizen6, Bandung: Kawasan Yayasan Pendidikan Telkom yang berlokasi di Jalan Telekomunikasi, Terusan Buah Batu, Dayeuh Kolot, Bandung, merupakan kawasan tempat berdirinya kampus-kampus yang berada di bawah naungan Telkom yaitu Institut Teknologi Telkom, Istitut Manajemen Telkom, Politeknik Telkom, dan STISI Telkom.



Kawasan ini juga merupakan kawasan tempat tinggal mahasiswa dengan banyaknya kos-kosan dan kontrakan yang disediakan untuk mahasiswa pendatang. Masuknya mahasiswa sebagai pendatang di daerah ini telah membawa paradigma baru dan fenomena kesenjangan sosial yang terjadi antara kaum pendatang dengan kaum pribumi yang ada di sini.

Menurut Bapak Asep Suyana selaku ketua RT 04 RW 06 desa Sukabirus, Dayeuh Kolot, Bandung, sosialisasi antara mahasiswa sebagai kaum pendatang dengan pribumi semakin hari semakin berkurang. Hal ini bisa dilihat dari kurangnya partisipasi masyarakat ketika kerja bakti yang dilaksanakan oleh warga pribumi. Padahal dulu mahasiswa dan pribumi saling gotong royong membersihkan lingkungan dan ikut kegiatan kerja bakti yang dilaksanakan setiap bulan. “Dulu mahasiswa rajin kerja bakti dan gotong royong bersama masyarakat, sekarang mahasiswa hanya kerja bakti ketika ospek kuliah saja”, tuturnya.



Bukti nyata dari fenomena kesenjangan sosial ini adalah adanya fasilitas berupa kos-kosan dan rumah kontrakan mewah yang dibangun untuk para mahasiswa, sedangkan masyarakat pribumi masih ada yang tinggal di gubuk reot yang terbuat dari bambu lapuk di sepanjang aliran sungai PGA. Mahasiswa mampu kuliah dengan menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor bahkan mobil mewah sementara masih banyak anak-anak kecil masyarakat pribumi yang putus sekolah dan tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Mahasiswa mampu membeli dan bermain dengan gadget canggih sebagai pendukung sarana perkuliahan mereka sedangkan anak-anak masyarakat pribumi masih ada yang bermain air dan berenang di sungai PGA yang kumuh.



Tidak semua masyarakat senang dengan perubahan yang terjadi di kawasan Yayasan Pendidikan Telkom ini. Salah satunya adalah ibu Arisah yang telah menetap di daerah kawasan Yayasan Pendidikan Telkom ini selama 25 tahun. Ibu Arisah merindukan suasana seperti dulu ketika kampus Telkom belum masuk ke kawasan tempat ia tinggal. “Dulu masih sepi, adem ayem. Sekarang udah rame banget. Banyak gedung-gedung tinggi”, ujar Ibu Arisah. Ibu Arisah juga mengatakan kalau keamanan yang ada di kawasan Yayasan Penidikan Telkom ini semakin menurun dibanding sebelum Kampus Telkom berdiri. “Dulu daerah ini sepi, aman. Sekarang udah banyak maling. Bahkan kemarin ada pembunuhan”, tuturnya.



Namun tidak semua perubahan ini berdampak negatif. Masuknya mahasiswa pendatang ke kawasan Yayasan Pendidikan Telkom ini telah mengubah paradigma masyarakat yang membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat itu sendiri. Salah satunya adalah dengan banyaknya peluang bisnis dan lapangan kerja baru yang tersedia bagi masyarakat pribumi. Contohnya adalah bisnis kuliner dan bisnis kos-kosan yang banyak terdapat di sekitar kawasan Telkom. Hal itu membuat masyarakat yang dulunya hanya bekerja sebagai petani mulai merambah ke dunia kewirausahaan. Contohnya dengan membawa usaha seperti warkop dan berjualan roti bakar. Tidak semua perubahan itu berdampak negarif, namun selalu ada dua sisi mata uang terhadap setiap fenomena yang terjadi.kelompok 1 (Rachmat Fitra/Rama Raditya/Rony Octari/ABI) (Kelompok I)



Rachmat Fitra/Rama Raditya/Rony Octari adalah pewarta warga





Opini: Pesatnya pembangunan selain berdampak positif juga berdampak negatif, terkadang ada batas yang kontras antara si kaya dan si miskin, seperti pada artikel diatas. Sebaiknya sebelum melaksanakan pembangunan, ada baiknya dilakukan sosialiasasi kepada masyarakat di sekitar dan mempertimbangkan opini-opini warga sekitar.








BAB VII : Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan

IPB Kembangkan Desa Wisata

BOGOR (Pos Kota) – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (LPPM) -IPB) gelar Lokakarya Pengembangan Desa Wisata Lingkar Kampus di Ruang Sidang Rektor, Gedung Andi Hakim Nasoetion.

Rektor IPB, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc mengatakan, sivitas dan Pemerintah Kota mendiskusikan hal penting bagaimana desa wisata lingkar kampus dapat dikembangkan terus, dan betul-betul dapat menjadi salah satu penghela penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Wisata merupakan salah satu sektor luar biasa, termasuk menjadi tiga sektor yang menjadi prime over perekonomian nasional. Hanya saja sektor wisata masih belum dikembangkan optimal. Saat ini masih banyak destinasi wisata yang belum digarap. Selama ini kita lebih mengandalkan destinasi tradisional.

“Kita mengembangkan wisata desa berlandaskan community based. IPB memandang konsep ini berdasarkan perspektif ekowisata yang dapat menjaga kelestarian alam Ini akan menarik banyak orang untuk berkunjung dan mampu menggerakkan perekonomian daerah,”ujar Rektor.

Dalam kesempatan ini, Dr. Siti Nurisjah, MSLA memaparkan dalam presentasinya terkait rancangan pengembangan agrowisata desa-desa lingkar kampus. Desa wisata dibagi dalam beberapa basis wisata diantaranya kawasan wisata berbasis alam (hutan, sungai), kawasan wisata berbasis air (situ), kawasan wisata berbasis pertanian organik dan kawasan wisata berbasis kehidupan pertanian.

Walikota Bogor terpilih, Dr.Bima Arya dalam kesempatan ini mengatakan, dirinya sudah lama memimpikan forum seperti ini. “Karena sebagai dosen dan peneliti, menurut saya kekuatan disain pembangunan tergantung sinergitas peneliti dan policy maker. Bersamaan forum ini, kami juga pararel menyusun turunan RPJMD lima tahun ke depan,”kata Bima.

Menurut Dr.Bima, dengan pertemuan ini IPB ingin menguatkan persepsi Pemerintah Kota Bogor mengenai pengembangan potensi Bogor di masa yang akan datang.

“Pembangunan dan penataan potensi Kota Bogor harus dilandasi historical factor atau kesejarahan Kota Bogor sebagai kota wisata dan pemukiman yang nyaman disesuaikan perkembangan demografisnya. Kesimpulan saya, Kota Bogor memiliki potensi yang besar dibidang wisata,”kata Bima. (yopi)
Opini: Artikel tersebut menurut saya merupakan salah satu contoh interaksi antara masyarakat pedesaan dan perkotaan. Sebagai masyarakat perkotaan yang lebih terbuka wawasannya dan lebih sensitif akan peluang usaha demi perekonomian negara mengusulkan untuk membuat tempat wisata yang nantinya akan memberi dampak positif bagi masyarakat pedesaan baik dalam segi ekonomi maupun wawasan.




BAB VIII : Pertentangan-Pertentangan Sosial & Integrasi Masyarakat

Konflik Sosial Ancam Persatuan dan Kesatuan



Solo (ANTARA) - Konflik sosial dan tindakan kekerasan yang merebak di beberapa daerah, terutama perkotaan perlu dicegah karena dapat mengancam persatuan dan kesatuan serta mengganggu kehidupan bernegara dan berbangsa.

Prof Dr Tadjuddin Noer Effendi staf pengajar Fisipol Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, mengatakan hal itu pada "Seminar Dengan Semangat Kebangkitan Nasional, Kita Galang Kebersamaan Mencegah Kekerasan dan Terorisme Untuk Kedamaian", di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Jumat.

Ia mengatakan, pendekatan preventif (pencegahan) perlu lebih diutamakan daripada pendekatan mengatasi (kuratif). Empati dan mau memahami akan persoalan yang dihadapi para remaja penting untuk dilakukan. Akar persoalan, meskipun tidak langsung tampak ada kaitan dengan tingginya angka pengangguran terbuka usia remaja berpendidikan.

Barangkali kesulitan para remaja mendapatkan akses memasuki pasar kerja dan akses sosial lainnya dapat memicu munculnya ketidakpuasan, keputusan dan frustrasi sosial. Situasi sosial seperti itu dapat menjadi pemantik konflik terbuka dan tindakan kekerasan. Tidak mustahil situasi itu juga sebagai wahana persemaian dan berseminya aksi terorisme.

Momentum bonus demografi perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mengurangi angka pengangguran terbuka remaja berpendidikan. Peluang-peluang ekonomi yang muncul seiring dengan bonus demografi perlu diarahkan untuk menciptakan peluang kerja dan berusaha yang dapat menyerap para pengangguran terbuka remaja.

Kelompok remaja ini secara sosial rawan karena berwatak labil mudah terpengaruh isu-isu negatif. Mudah emosi dan terpancing untuk melakukan tindakan kekerasan. Apalagi dalam kehidupan, mereka merasakan ada kesenjangan sosial.

Ia mengatakan dari 40,772 juta penduduk usia 15-24 tercatat sebagai angkatan kerja berjumlah 20,257 juta. Dari jumlah tersebut 45,5 persen berdomisili di perkotaan. Para remaja yang tercatat sudah bekerja sekitar 15,884 juta jiwa yang bekerja di kota 44,3 persen dan sisanya 55,7 persen di desa.

Dikatakan dia, pada tahun 2010 angkatan kerja untuk usia 16 -60 tahun yang tercatat mencari kerja atau pengangguran terbuka sekitar 7,1 persen. Bila dicermati menurut kelompok usia maka ada perbedaan yang mencolok antara tingkat pengangguran terbuka remaja usia 15-24 dengan usia 25-60 tahun.

Tingkat pengangguran terbuka usia 15-24 tahun mencapai 21,4 persen sedangkan untuk usia 25-60 tahun hanya berkisar 4,1 persen. Perbedaan ini tidak jauh berbeda di perkotaan dan perdesaan. (tp)


Opini: Banyak hal yang dapat menyebabkan konflik, yang dapat saya cerna dari artikel tersebut yaitu mengenai kelompok pengangguran yang secara psikologis lebih mudah terpengaruh isu-isu negatif sehingga kelompok cenderung mudah terlibat dalam konflik.





BAB IX : Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Kemiskinan

Akademisi: Atasi Kemiskinan Dengan Pendekatan Ilmu Sosial
Dikutip dari: http://id.berita.yahoo.com/akademisi-atasi-kemiskinan-dengan-pendekatan-ilmu-sosial-091851554.html
Jakarta (ANTARA) - Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lukman Hakim berpendapat bahwa pendekatan ilmu-ilmu sosial sangat diperlukan dalam upaya pengurangan kemiskinan.

"Dalam pemahaman kami, untuk mengatasi masalah kemiskinan memerlukan kontribusi nyata ilmu-ilmu sosial. Itu karena ilmu sosial memiliki kekuatan yang dapat digunakan untuk memahami berbagai dimensi masalah yang dihadapi manusia, seperti masalah kemiskinan," kata Lukman di Jakarta, Senin.

Pernyataan tersebut dia sampaikan dalam seminar bertajuk "Peran Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora dalam Pengurangan Kemiskinan" di Gedung Widya Graha LIPI di Jakarta.

Dia mengatakan kemiskinan merupakan topik yang dibahas di seluruh dunia karena hal itu merupakan permasalahan global.

"Kebanyakan orang memahami kemiskinan secara subyektif dan relatif, sementara yang lain melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut pandang ilmiah yang telah dibentuk," ujarnya.

Menurut Lukman, kemiskinan adalah hasil dari akumulasi pembangunan yang terdistorsi. Distorsi atau penyimpangan itu, kata dia, terbukti dengan adanya suatu paradoks dalam masyarakat di beberapa negara, yakni fenomena kemiskinan yang tinggi di tengah-tengah pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

"Jadi, pembangunan tidak selalu merupakan suatu potret harmoni antara pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sosial. Faktanya, di banyak negara di dunia, pertumbuhan ekonomi tidak sejalan dengan pembangunan sosial," tuturnya.

Di Indonesia, lebih lanjut dikatakannya, momentum pertumbuhan ekonomi dalam 15 tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak menjadi stimulus pengentasan kemiskinan.

"Lebih dari 32 juta orang Indonesia dari populasi 234 juta saat ini hidup di bawah garis kemiskinan. Selain itu, sekitar setengah dari seluruh rumah tangga tetap berada di sekitar garis kemiskinan nasional dengan kisaran pendapatan Rp200.262 per bulan," jelasnya.

Oleh karena itu, kata Lukman, dengan mempertimbangkan realitas sosial yang terjadi saat ini, pemerintah tidak bisa lagi mengabaikan pentingnya pembangunan berbasis sosial dengan memakai pemdekatan ilmu-ilmu sosial.

Kepala LIPI itu mendefinisikan pembangunan berbasis sosial sebagai suatu proses perubahan sosial terencana yang dirancang untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat secara keseluruhan, di mana pembangunan dilakukan untuk melengkapi proses dinamis pembangunan ekonomi.

"Dengan kata lain, perlu ada keseimbangan pembangunan. Pembangunan harus bertujuan memperkuat masyarakat untuk hidup makmur dan sejahtera," ucapnya.

Dalam upaya untuk mengentaskan kemiskinan, lanjutnya, strategi awal adalah untuk merancang kebijakan sosial dan perencanaan sosial.

"Sekali lagi, kita perlu pandangan yang berbeda dari berbagai ilmuwan sosial yang dapat membangun suatu "blok bangunan" untuk memahami dan menangani masalah kemiskinan," ujar Lukman.(tp)

Opini : Dari artikel tersebut, yang dapat saya simpulkan bahwa sebaiknya pembangunan ekonomi harus dibarengi dengan pembangunan sosial, sehingga tercipta keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan sosial. Menurut artikel tersebut, meskipun pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi belum berpengaruh terhadap penurunan tingkat kemiskinan. Oleh karena itu, pembangunan harus bertujuan memperkuat masyarakat untuk hidup makmur dan sejahtera.









BAB X: AGAMA DAN MASYARAKAT

Konflik Antar Agama & Etnis di Poso & Sampit







Kerusuhan yang berlatarbelakang agama, etnis, dan golongan terjadi di Poso, Sulawesi Tengah pada 17 April 2000. Dalam kerusuhan tersebut terjadilah saling serang antara desa Nasrani dan desa Islam. Menurut data Polri, kerusuhan tersebu memakan korban 137 orang meninggal, sedangkan menurut militer 237 orang meninggal, 27 luka-luka, puluhan rumah rusak dan dibakar, 1 bus dibom, beberapa gereja dirusak, dibakar, dan dibom.

Kerusuhan ini terjadi pada masa kepemimpinan Kapolri Rusdihardjo. Kapolri pun bergegas mengatasi kerusuhan ini, alhasil Polri pun berhasil menangkap 114 tersangka, 77 diantaranya membawa senjata tajam dan senjata api rakitan, selebihnya terlibat dalam kasus pembakaran, penjarahan, dan menghasut massa. Lalu mereka pun diajukan ke pengadilan untuk diproses secara hukum. Kemudian pada masa Kapolri Suroyo Bimantoro terjadi kerusuhan etnis di daerah Sampit dan Palangkaraya, Kalimantan Tengah.





Konflik etnis yang terjadi di Sampit dan sekitarnya adalah permusuhan antara dua suku, yakni Suku Dayak (asli) dan Suku Madura (pendatang).

Peristiwa kerusuhan yang pecah pada 18 Februari 2001 di Jalan Karyabaru, Sampit dan di Jalan Tidar Cilik Riwut (km 1, Sampit) dipicu oleh serangan yang dilakukan kelompok suku Madura terhadap suku Dayak. Dalam peristiwa penyerangan tersebut 7 orang suku Dayak dan 5 orang Madura meninggal. Akibat dari penyerangan tersebut adalah terjadinya serangan balas dari suku Dayak terhadap suku Madura yang mengakibatkan 87 orang meninggal, sebagian besar dari suku Madura.
Rincian jumlah korban yang jatuh dalam kerusuhan ini menurut Polda Kalteng adalah 388 orang (164 diantaranya tanpa kepala) dari suku Madura dan dari suku Dayak hanya 16 orang meninggal serta 2 orang suku Banjar. Sedangkan kerugian material sebanyak 1.234 rumah dibakar dan 748 rumah dirusak. Sedangkan untuk kendaraan, 16 unit mobil, 48 unit motor, dan 114 becak dibakar. Ditambah lagi sebuah pasar, 75 kios, 29 ruko, 14 gudang dirusak/dibakar. Selain itu, polisi pun menyita barang bukti kerusuhan berupa 9 pucuk senjata api rakitan, 98 buah bom rakitan, 410 buah mandau, 374 buah tombak, 455 buah parang, 41 buah kapak, 1 buah samurai, dan 10 buah linggis.
Pada kerusuhan Sampit, tercatat sebanyak 65.134 orang Madura mengungsi dan di- evakuasi ke Surabaya menggunakan 5 kapal laut.





Opini: Konflik suku dan agama berdampak buruk mulai dari kehilangan materi sampai dengan hilangnya nyawa. Oleh karena itu, Sebaiknya antar warga negara menumbuhkan sikap toleransi yang baik dan pemerintah pun wajib membina persatuan warga negara misalnya dengan mengadakan acara yang dapat menumbuhkan sikap kebersamaan dan saling memiliki.
Nama : Mahfudin
NPM : 15113233
Kelas : 1 KA 07